
Kemacetan Lalulintas jakarta semakin akut. Berbagai pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasinya seakan sia-sia jika melihat dat terbaru jumlah kendaraan di Ibukota.
Data Polda Metro Jaya menyebutkan akan ada 12 juta kendaraan hilir mudik pada tahun 2011 di jalan Jakarta. Diperkirakan, bila tidak diambil langkah cepat dan tepat lalulntas Jakarta akan lumpuh. Polisi merilis tahun 2010 ini jumlah kendaraan di jakarta mencapai 11.362.396 unit kendaraan. Terdiri dari 8.244.346 unit kendaraan roda dua dan 3.118.050 unit kendaraan roda empat.
Jika jumlah kendaraan tahun ini ditambah dengan masuknya kendaraan baru sebanyak 700 ribu kendaraan, maka akan ada sekitar 12 juta jumlah kendaraan menyemut dan mengular di jalan Jakarta setiap hari. Data 700 ribu kendaraan baru ini menyitir pernyataan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo Foke, demikian ia sering dipanggil, memperkirakan ada 700 ribu kendaraan baru yang akan dipasarkan di Jakarta pada tahun 2011 nanti. Kata Foke, 700 ribu kendaraan itu termasuk yang akan dipasarkan di Depok, Bekasi, Bogor dan Cianjur, Jawa Barat. Tapi bisa dipastikan kalau mobil-mobil baru itu paling banyak unutk pasar Jakarta.
Bila sebagian besar pemilik kendaraan itu bekerja di Ibukota, maka lalulintas di dalam tol secara otomatis akan bertambah parah. “dan dua tahun ini sudah terjadi pembengkakan pertumbuhan kendaraan. “ujar Fauzi Bowo. Data Polda Metro Jaya dan pernyataan Foke sangat masuk akal, jika melihat data yang dikeluarkan saat ajang pameran terbesar otomotif 2010, Indonesia Internasional Motor Show yang di gelar Agustus 2010 lalu. Dalam perhelatan itu dibukukan penjualan Rp. 2,4 triliun. Angka ini melampaui target transaksi sebanyak Rp. 2,2 triliun. Jumlah mobil terjual fantastis, sekitar 10 ribu mobil.
“Setidaknya 10 ribu mobil terjual dalam ajang selama sepekan ini” Kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR. Tentunya jumlah mobil terbanyak itu akan makin mempercepat kelumpuhan lalulintas Jakarta. Ini sesuai dengan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukan pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen pertahun.
Sementara pertumbuhan luas jalan relatif tetap, sekitar 0,01 persen pertahun. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, pada tahun 2014 Jakarta diperkirakan akan mengalami kemacetan total. Mungkin juga bisa lebih cepat. Macam-macam solusi pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi macet. Tapi tetap saja kemacetan tak bisa direduksi.
Sudah ada tiga strategi untuk mengatasi masalah transportasi di Jakarta melalu traffic demand management (TDM). Tiga strategi itu adalah pertama pengembangan angkutan massal, seperti proyek MRT dan busway. Kedua pembatasan lalulintas seperti ERP. Ketiga peningkatan kapasitas jaringan berupa pembangunan dua ruas jalan layang non tol tahun ini (Antasari-Blok M dan Kampung melayu-Tanah Abang). Selain rencana jangka panjang, juga ada rencana jnagka pendek. Itu sudah di lakukan oleh Polda Metro Jaya dan pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Upaya jangka pendek itu salah satunya adalah menutup akses masuk sejumlah mel yang menjadi biang macet di jalan protokol. Pintu masuk Plaza Semanggi sudah ditutup dan Pejaten Village dalam proses ditutup. Mal lainnya, seperti Ambasador dan Grand Indonesia adalah target selanjutnya. Selain itu, ada rencana pembatas kendaraan roda dua di jalur protokol seperti Sudirman dan Thamrin pada jam sibuk. Langkah lainnya, menutup putaran jalan atau U-turn. Ada 36 putaran jalan yang akan di tutup.
“Kami tengah mengkaji pembatasan truk kontainer untuk melintas di Jakarta. Idealnya kendaraan berat ini hanya dapat melintas di ruas tol dalam kota di atas pukul 22.00, di mana kondisi lalulintas telah lengang”. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono. Langkah lain yang telah di siapkan dalam waktu dekai ini adalah melalui penerapan Electronic Road Pricing (ERP) atau jalan berbayar. Rencana sistem penarikan retribusi pada pengendara ini akan diberlakukan di ruas jalan yang sebelumnya di berlakukan 3 in 1. Bahkan untuk ERP ini kajiannya telah selesai. Saat ini, Pemerintah DKI Jakarta akan melaksanakan tender pengadaan peralatan ERP. Namun kapan pelaksanaan tender akan dilakukan usia payung hukum sistem ini selesai di buat.
“Akan segera masuk ke pekerjaan yang telah detail. Seperti desain harga dan sebagainya” ujar Pembanguna dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta M. Tauchid. Pengadaan peralatan ERP bukan hal yang sulit. Karena di negara ini, ERP sudah lebih dulu diberlakukan. Seperti di Singapura. Namun bisakah lalulintas di Jakarta seperti Singapura?Kita lihat saja nanti.
source : kompas.com





0 komentar:
Poskan Komentar